Thursday, September 12, 2013

Merindukanmu...Kebebasan

Hai bloggie :D Lama tak jumpa nih.
So, gueeeh mau ngepost puisi yang ala kadarnya ini aja ya, yang tentu judulnya sudah disebutkan di atas :))  Tapi... harus dibaca dan dihayati sepenuh hati yaaaa.. Ini ocehan kecil dari lubuk hati terdalam, ciaaat.. 



Aku terdiam…
Mengamati setiap inci wajah mereka
Tawa merekah

Aku terdiam…
Memperhatikan tiap jengkal gerak-gerik mereka
Tangannya beradu dengan kakinya
Mengayun kesana kemari

Aku terdiam…
Menikmati sekelilingku
Kebebasan begitu nyata kurasakan

Kembali ku terdiam…
Melihat cermin wajahku
Rindu aroma kedamaian…kebebasan…

Aku ingin seperti mereka
Aku lelah
Dengan segala yang ada

Tiap hari lusinan kertas beradu
Menantangku…melumpuhkanku…

Entah kapan siklus ini akan berakhir
Di saat kebebasan hidup kembali
Ketika tak ada lagi lusinan kertas
yang mengajakku beradu lewat ribuan angka serta kata
Aku lelah…

Monday, February 25, 2013

Apa itu World Wide Web?

World Wide Web atau biasa dikenal dengan WWW adalah suatu ruang informasi yang dipakai oleh pengenal global yang disebut Pengidentifikasi Sumber Seragam untuk mengenal pasti sumber daya berguna.WWW ditemukan oleh Tim Berners-Lee pada tahun 1991. Sekarang ini WWW telah memiliki pemirsa dalam jumlah yang sangat besar di luar lingkup akademis yaitu kurang lebih 30% dari server web yang tengah beroperasi saat ini. Mau tau selengkapnya tentang WWW? klik disini. http://www.ziddu.com/download/21681303/SejarahWorldWideWeb_FeliciaEchie_9E_10.doc.docx.html

Sunday, February 10, 2013

My Beautiful Birthday♥



“Hari ini hari yang kau tunggu, bertambah satu tahun usiamu, bahagialah kamu.” 

Petikan lagu Selamat Ulang Tahun dari Jamrud ini mengawali cerita bahagiaku kali ini yang sebenarnya berawal dari rasa kagol, sakit, sedih, kecewa, dan kawan-kawannya. Sebuah skenario yang sengaja dirancang oleh :
Produser           : Rasyid Yudhanto Kurniawan
Sutradara         :  Megatruh Banyu Mili
Aktor/Aktris       :  Bernadeta Winona Lalita Riadi
                           Lailani Nur Sabrina
                           Maria Shinta Dewi Nugraheni
                           Argya Bayuaji
                           Agtari Dwi Utami
Selama 6 hari aku tak tau apa-apa. Selama 6 hari yang kutahu, kamu jatuh sakit. Dan begitu yang kurasakan juga, sakit yang begitu menyiksa ketika aku tak dapat melakukan apa-apa. Justru salah seorang sahabatku yang begitu peduli padamu. Sedangkan aku? Hanya mampu menangis dan menangis. Sejujurnya aku jealous melihatmu bersamanya, tapi aku bisa apa? Memperhatikanmu dalam diam. Mengkhawatirkanmu dalam sepi. Perasaan tak tenang. Pikiran tak menentu. Hari-hari yang penuh dengan rasa bosan, malas, tak memiliki semangat.
Hari Jum’at menyapa. Aku shock begitu mendengar kabar dari seorang sahabat. Kabar yang menyakitkan. Kabar tentang kamu. Dan lagi-lagi, aku tak berada di TKP. Aku tak membantumu, aku tak menolongmu, dia yang melakukannya, sahabatku. Aku merasa menjadi wanita yang tak berguna. Aku menangis sejadi-jadinya. Dan berkat satu Short Message Service dari sahabatku yang begitu menusuk hati, aku seolah dibangkitkan kembali. Aku mencoba mencari tau keadaanmu melalui orang tuamu.
Perjuanganku tak berakhir begitu saja. Sabtu pagi, aku sudah berada di tempat dudukmu. Menantimu di 9B. Tapi hasilnya? Nihil. Aku tak menemukan jawaban. Kamu bahkan tak mau berbagi cerita bersamaku. Dan lagi-lagi, aku hanya mampu menangis. Istirahat tiba. Aku dikagetkan oleh sebuah berita yang amat sangat menyakitkan. Begitu menyayat hati. Kamu tak peduli lagi padaku. Kamu tak lagi menyayangiku. Kamu berpaling ke lain hati. Kamu… :’(
Aku tak mampu membendung air mata ini lagi. Tetes demi tetes jatuh. Aku segera menghambur ke pelukan sahabatku. Aku memeluknya begitu erat. Aku merasa tak berdaya kala itu. Aku menjadi wanita yang lemah. Aku benar-benar membutuhkan orang lain. Marah. Sakit. Kecewa. Merasa dikhianati. Merasa tak dianggap.
Seperti lagu Aku Yang Tersakiti oleh Judika, yang sungguh menggambarkan perasaanku kala itu.
“Tak pernahkah kau sadari, akulah yang kau sakiti. Kau pergi dengan janjimu yang telah kau ingkari.”
Dan sejujurnya…
“Aku tanpamu, butiran debu.”
Lagu dari Rumor dengan judul Butiran Debu ini membuatku benar-benar merasa tak ingin kehilangan sosokmu.
        Jam pelajaran berakhir. Dan sepulang sekolah, sahabatmu menghampiriku. Mengajakku menemuimu. Awalnya aku tak mau, terlanjur sakit hati. Tapi akhirnya aku mengiyakan, tapi hanya untuk menemuimu, bukan menemuinya. Pembicaraan pun dimulai. Kamu mengutarakan semuanya. Dan itu amat sangat menyakitkan. Aku tak punya nyali untuk menatap matamu, memalingkan wajahku entah kemana. Aku hanya mampu mengutarakan rasa sakit, marah, kecewa, dengan diwakilkan 1 kalimat singkat yang mungkin terdengar sadis. Pembicaraan terhenti ketika salah seorang wanita muncul, sahabatku. Aku berusaha melarikan diri, namun tak berhasil. Dan ketika aku kembali, sosok sahabatku telah menghilang, entah kemana. Pembicaraan berlanjut. Tak lama kemudian… Jeng-jeng…
         




 “Happy birthday to you, happy birthday to you,
happy birthday, happy birthday, happy birthday to you :D”

Kaget, bingung, bahagia, tak percaya. Ini benar-benar… Ternyata ini hanya skenario belaka. Semuanya sandiwara. Tak ada hati yang hilang. Tak ada sosok yang pergi. Tak ada yang harus tersakiti. Good job! 



Tiup lilin berangka 15. Potong kue :D



     
Suapan pertama dari yang tersayang :) ciyeee :P




 Kuenya unyu yaaa :D Serbuuuuu yukk :D



Thank youuuu, teman-temaaaan :D




Kalian mendadaniku menjadi manusia tepung yang unyu sekali :D

            Tired. Go home. Kamu mengantarku bersama salah seorang sahabat. Bahkan tak hanya mengantar, kita bermain bersama. Seperti kembali ke masa kanak-kanak, kita bermain-main di sawah. Berfoto ria, berjalan lalu kembali, menyusuri pematang sawah, berbagi canda, berbagi tawa, berbagi kebahagiaan. Tangan yang kurindukan selama 6 hari, menggenggamku. Begitu indah. Kalian pulang. The end…
        Kebahagiaan besar kutemui hari itu :D Hari dimana aku beranjak dewasa. Kalian sukses, teman-teman! Kalian berhasil! Lolos casting :D Thanks big {}




Dan yang terakhir, lagu buat kalian teman-teman...
Project Pop-Ingatlah Hari Ini.
Terimakasih semuanya :) Ulang tahun paling berkesan. Dan takkan terlupa. Akan selalu kusimpan dalam memory otakku. Aku sayang kaliaaan {}


with love
Echieee~







Wednesday, January 30, 2013

Kusapa Kau Kebahagiaan :)



Aku terbangun di satu pagi yang cerah. Mentari tak enggan tersenyum padaku. Begitu indahnya, seperti senyummu. Kusapa burung-burung yang berkicauan, bunga-bunga yang bermekaran, yang tak pernah bosan membuat indahnya hari-hariku. Kuambil handuk doraemonku dan bergegas untuk mandi. Ini adalah hari pertamaku masuk sekolah kembali setelah waktu yang cukup panjang kuhabiskan di rumah tercinta. Bosan, tentunya. Satu kata yang dapat mewakilkan seluruh perasaanku, rindu. Rindu akan materi pelajaran, rindu akan tawa sahabat-sahabatku, dan yang amat kurindukan dari semuanya…kamu.


Kulangkahkan kakiku pada gedung berwarna hijau ini, sekolahku. Kusapu pandanganku pada seluruh tempat di sekolah ini, mencari-cari sosokmu. Tak ada. Aku melirik jam winnie the poohku, waktu menunjukkan pukul 06.30. Pantas saja kamu belum datang, ini masih terlalu pagi. Aku duduk di depan kelas baruku, 9E. Sembari menunggu teman-teman yang lain, aku membaca sebuah novel untuk menghapus rasa bosanku. Tak lama kemudian, satu persatu temanku datang.

Kualihkan pandanganku sejenak dari sebuah novel “Hello Happines”, kupasang kedua mataku untuk melihat ke seluruh penjuru tempat di sekolah ini. Masih mencari sosokmu. Mataku tertuju tepat pada ruang kelas itu. 9B, kelas barumu. Itu kamu, disana. Di depan kelas itu, memandangku. Aku hanya tersenyum.

Waktu menunjukkan pukul 06.50. Aku memasuki kelas baruku, dengan teman-teman yang baru pula. Aku meletakkan tasku pada bangku nomor 2 dari depan, lalu mengambil topi untuk upacara pagi ini. Aku bergegas mengikuti sahabat-sahabatku yang sudah mendahuluiku ke lapangan. 5 jam telah berlalu, bel pun berbunyi, terdengar suara gemuruh anak-anak berteriak kegirangan. 

Aku berjalan menyusuri koridor, hendak pulang. Tetapi aku merasa ada yang mengikutiku. Aku menoleh, memutar kepalaku 90o ke kiri. Ada kamu disana. Kamu menatapku sejenak. Dan tanpa berbasa-basi kamu mengatakan, “Awan sayang Bintang”, 3 kata yang sempat kau janjikan padaku. Dan lagi-lagi aku hanya mampu tersenyum. Mulutku kaku, lidahku kelu. Tak menyangka. Tak percaya, kau mengatakan itu padaku.

Hari demi hari berlalu, sampai ketika aku harus merasakan kesepian yang begitu menyiksa. 10 hari tanpa komunikasi denganmu. Entah, aku pun tak mengerti alasanmu melakukan ini. Akhirnya, aku tak dapat menahan rasa sepi ini lagi. Aku mencoba menghubungimu pada hari ke 11, setelah aku mengetahui alasanmu melakukan ini dari seorang sahabat. Sejak hari itu, kita berkomunikasi kembali seperti biasa.

Tak berapa lama, aku mendengar kabar bahwa kamu sedang dekat dengan satu sosok wanita, entah siapa. Kamu tak pernah bercerita padaku. Kamu berubah, sejak hari itu. Tak terbuka lagi padaku, seperti dulu. Aku sempat memberontak, merasa tak dianggap. Tetapi satu dari beribu alasanmu melakukan ini adalah kamu tak ingin melukai perasaanku. Kini aku mengerti.

Kamu kembali terbuka padaku. Aku memang selalu ingin tahu tentang seluk beluk kehidupanmu. Mungkin kedengarannya terlalu ikut campur, tetapi ini karna aku peduli, karna aku masih sangat menyayangimu. Kalian semakin dekat. Kalian berbagi tawa, berbagi cerita, saling memberi solusi dalam setiap masalah. Bagaimana dengan aku? Pernahkah aku melakukan itu semua denganmu? Rasanya belum. 

Aku kerap melihat kalian berdua, bahkan terkadang bersama kedua atau ketiga sahabatmu. Aku memang bukan kekasihmu, hanya sekedar teman dekat. Begitu dekat. Tetapi bolehkah aku jujur? Ya, aku cemburu. Cemburu tak perlu memiliki hak, kan? Cemburu bukan berarti kita harus memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman, kan? Walaupun kamu mengatakan bahwa kalian hanya teman curhat, dan kamu hanya sekedar suka dan bukan berarti sayang. Tetapi tetap saja, rasanya sakit. Begitu menusuk hati. Entah sudah berapa tetes air mata yang jatuh untukmu, Awan.

 Waktu berganti, aku mulai terbiasa dengan semua ini. Semakin lama aku semakin mengerti. Aku percaya semua yang kau katakan benar adanya. Kita saling memegang komitmen masing-masing. Dan ternyata, kamu kembali lagi. Tetapi karna satu hal, hubunganmu sempat kurang baik dengan Rahma, sosok wanita yang pernah kamu suka itu. Aku sempat merasa bersalah. Mengapa jadi begini? Aku memang menginginkan Awan kembali lagi padaku, tetapi bukan berarti hubungannya dengan Rahma menjadi kurang baik, kan? Aku bersyukur, hal itu tak berlangsung lama. Karna satu peristiwa, hubungan kalian menjadi baik kembali.

Kini kamu telah kembali, bersama kebahagiaan. Berkat satu hari yang begitu indah, kita seperti membuka lembaran baru, menggantikan lembaran lama yang telah usang. Kita semakin terbuka, semakin peduli satu sama lain. Begitu manis. Begitu indah. Layaknya sepasang kekasih.

Hai, kebahagiaan.

Jangan tinggalkan kami lagi, ya. Biarkan Awan dan Bintang merasakan hadirmu…selalu. Aku menyayangimu, Awan. Begitu menyayangimu. Hingga tak rela kehilangan sosokmu, sosok yang begitu berarti. Sungguh tak rela.