Aku terbangun di satu pagi yang cerah. Mentari
tak enggan tersenyum padaku. Begitu indahnya, seperti senyummu. Kusapa
burung-burung yang berkicauan, bunga-bunga yang bermekaran, yang tak pernah
bosan membuat indahnya hari-hariku. Kuambil handuk doraemonku dan bergegas
untuk mandi. Ini adalah hari pertamaku masuk sekolah kembali setelah waktu yang
cukup panjang kuhabiskan di rumah tercinta. Bosan, tentunya. Satu kata yang
dapat mewakilkan seluruh perasaanku, rindu. Rindu akan materi pelajaran, rindu
akan tawa sahabat-sahabatku, dan yang amat kurindukan dari semuanya…kamu.
Kulangkahkan kakiku pada gedung berwarna hijau
ini, sekolahku. Kusapu pandanganku pada seluruh tempat di sekolah ini,
mencari-cari sosokmu. Tak ada. Aku melirik jam winnie the poohku, waktu
menunjukkan pukul 06.30. Pantas saja kamu belum datang, ini masih terlalu pagi.
Aku duduk di depan kelas baruku, 9E. Sembari menunggu teman-teman yang lain,
aku membaca sebuah novel untuk menghapus rasa bosanku. Tak lama kemudian, satu
persatu temanku datang.
Kualihkan pandanganku sejenak dari sebuah novel
“Hello Happines”, kupasang kedua mataku untuk melihat ke seluruh penjuru tempat
di sekolah ini. Masih mencari sosokmu. Mataku tertuju tepat pada ruang kelas
itu. 9B, kelas barumu. Itu kamu, disana. Di depan kelas itu, memandangku. Aku
hanya tersenyum.
Waktu menunjukkan pukul 06.50. Aku memasuki
kelas baruku, dengan teman-teman yang baru pula. Aku meletakkan tasku pada
bangku nomor 2 dari depan, lalu mengambil topi untuk upacara pagi ini. Aku
bergegas mengikuti sahabat-sahabatku yang sudah mendahuluiku ke lapangan. 5 jam
telah berlalu, bel pun berbunyi, terdengar suara gemuruh anak-anak berteriak
kegirangan.
Aku berjalan menyusuri koridor, hendak pulang.
Tetapi aku merasa ada yang mengikutiku. Aku menoleh, memutar kepalaku 90o ke kiri. Ada kamu
disana. Kamu menatapku sejenak. Dan tanpa berbasa-basi kamu mengatakan, “Awan
sayang Bintang”, 3 kata yang sempat kau janjikan padaku. Dan lagi-lagi aku
hanya mampu tersenyum. Mulutku kaku, lidahku kelu. Tak menyangka. Tak percaya,
kau mengatakan itu padaku.
Hari demi hari berlalu, sampai ketika aku harus
merasakan kesepian yang begitu menyiksa. 10 hari tanpa komunikasi denganmu.
Entah, aku pun tak mengerti alasanmu melakukan ini. Akhirnya, aku tak dapat
menahan rasa sepi ini lagi. Aku mencoba menghubungimu pada hari ke 11, setelah
aku mengetahui alasanmu melakukan ini dari seorang sahabat. Sejak hari itu,
kita berkomunikasi kembali seperti biasa.
Tak berapa lama, aku mendengar kabar bahwa kamu
sedang dekat dengan satu sosok wanita, entah siapa. Kamu tak pernah bercerita
padaku. Kamu berubah, sejak hari itu. Tak terbuka lagi padaku, seperti dulu.
Aku sempat memberontak, merasa tak dianggap. Tetapi satu dari beribu alasanmu
melakukan ini adalah kamu tak ingin melukai perasaanku. Kini aku mengerti.
Kamu kembali terbuka padaku. Aku memang selalu
ingin tahu tentang seluk beluk kehidupanmu. Mungkin kedengarannya terlalu ikut
campur, tetapi ini karna aku peduli, karna aku masih sangat menyayangimu. Kalian
semakin dekat. Kalian berbagi tawa, berbagi cerita, saling memberi solusi dalam
setiap masalah. Bagaimana dengan aku? Pernahkah aku melakukan itu semua
denganmu? Rasanya belum.
Aku kerap melihat kalian berdua, bahkan
terkadang bersama kedua atau ketiga sahabatmu. Aku memang bukan kekasihmu,
hanya sekedar teman dekat. Begitu dekat. Tetapi bolehkah aku jujur? Ya, aku
cemburu. Cemburu tak perlu memiliki hak, kan? Cemburu bukan berarti kita harus
memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman, kan? Walaupun kamu mengatakan
bahwa kalian hanya teman curhat, dan kamu hanya sekedar suka dan bukan berarti
sayang. Tetapi tetap saja, rasanya sakit. Begitu menusuk hati. Entah sudah berapa tetes air
mata yang jatuh untukmu, Awan.
Waktu berganti, aku mulai terbiasa dengan
semua ini. Semakin lama aku semakin mengerti. Aku percaya semua yang kau
katakan benar adanya. Kita saling memegang komitmen masing-masing. Dan ternyata, kamu kembali lagi. Tetapi karna satu hal,
hubunganmu sempat kurang baik dengan Rahma, sosok wanita yang pernah kamu suka
itu. Aku sempat merasa bersalah. Mengapa jadi begini? Aku memang menginginkan
Awan kembali lagi padaku, tetapi bukan berarti hubungannya dengan Rahma menjadi
kurang baik, kan? Aku bersyukur, hal itu tak berlangsung lama. Karna satu
peristiwa, hubungan kalian menjadi baik kembali.
Kini kamu telah kembali, bersama kebahagiaan.
Berkat satu hari yang begitu indah, kita seperti membuka lembaran baru,
menggantikan lembaran lama yang telah usang. Kita semakin terbuka, semakin
peduli satu sama lain. Begitu manis. Begitu indah. Layaknya sepasang kekasih.
Hai, kebahagiaan.
Jangan tinggalkan kami lagi, ya. Biarkan Awan
dan Bintang merasakan hadirmu…selalu. Aku menyayangimu, Awan. Begitu
menyayangimu. Hingga tak rela kehilangan sosokmu, sosok yang begitu berarti.
Sungguh tak rela.