Wednesday, January 30, 2013

Kusapa Kau Kebahagiaan :)



Aku terbangun di satu pagi yang cerah. Mentari tak enggan tersenyum padaku. Begitu indahnya, seperti senyummu. Kusapa burung-burung yang berkicauan, bunga-bunga yang bermekaran, yang tak pernah bosan membuat indahnya hari-hariku. Kuambil handuk doraemonku dan bergegas untuk mandi. Ini adalah hari pertamaku masuk sekolah kembali setelah waktu yang cukup panjang kuhabiskan di rumah tercinta. Bosan, tentunya. Satu kata yang dapat mewakilkan seluruh perasaanku, rindu. Rindu akan materi pelajaran, rindu akan tawa sahabat-sahabatku, dan yang amat kurindukan dari semuanya…kamu.


Kulangkahkan kakiku pada gedung berwarna hijau ini, sekolahku. Kusapu pandanganku pada seluruh tempat di sekolah ini, mencari-cari sosokmu. Tak ada. Aku melirik jam winnie the poohku, waktu menunjukkan pukul 06.30. Pantas saja kamu belum datang, ini masih terlalu pagi. Aku duduk di depan kelas baruku, 9E. Sembari menunggu teman-teman yang lain, aku membaca sebuah novel untuk menghapus rasa bosanku. Tak lama kemudian, satu persatu temanku datang.

Kualihkan pandanganku sejenak dari sebuah novel “Hello Happines”, kupasang kedua mataku untuk melihat ke seluruh penjuru tempat di sekolah ini. Masih mencari sosokmu. Mataku tertuju tepat pada ruang kelas itu. 9B, kelas barumu. Itu kamu, disana. Di depan kelas itu, memandangku. Aku hanya tersenyum.

Waktu menunjukkan pukul 06.50. Aku memasuki kelas baruku, dengan teman-teman yang baru pula. Aku meletakkan tasku pada bangku nomor 2 dari depan, lalu mengambil topi untuk upacara pagi ini. Aku bergegas mengikuti sahabat-sahabatku yang sudah mendahuluiku ke lapangan. 5 jam telah berlalu, bel pun berbunyi, terdengar suara gemuruh anak-anak berteriak kegirangan. 

Aku berjalan menyusuri koridor, hendak pulang. Tetapi aku merasa ada yang mengikutiku. Aku menoleh, memutar kepalaku 90o ke kiri. Ada kamu disana. Kamu menatapku sejenak. Dan tanpa berbasa-basi kamu mengatakan, “Awan sayang Bintang”, 3 kata yang sempat kau janjikan padaku. Dan lagi-lagi aku hanya mampu tersenyum. Mulutku kaku, lidahku kelu. Tak menyangka. Tak percaya, kau mengatakan itu padaku.

Hari demi hari berlalu, sampai ketika aku harus merasakan kesepian yang begitu menyiksa. 10 hari tanpa komunikasi denganmu. Entah, aku pun tak mengerti alasanmu melakukan ini. Akhirnya, aku tak dapat menahan rasa sepi ini lagi. Aku mencoba menghubungimu pada hari ke 11, setelah aku mengetahui alasanmu melakukan ini dari seorang sahabat. Sejak hari itu, kita berkomunikasi kembali seperti biasa.

Tak berapa lama, aku mendengar kabar bahwa kamu sedang dekat dengan satu sosok wanita, entah siapa. Kamu tak pernah bercerita padaku. Kamu berubah, sejak hari itu. Tak terbuka lagi padaku, seperti dulu. Aku sempat memberontak, merasa tak dianggap. Tetapi satu dari beribu alasanmu melakukan ini adalah kamu tak ingin melukai perasaanku. Kini aku mengerti.

Kamu kembali terbuka padaku. Aku memang selalu ingin tahu tentang seluk beluk kehidupanmu. Mungkin kedengarannya terlalu ikut campur, tetapi ini karna aku peduli, karna aku masih sangat menyayangimu. Kalian semakin dekat. Kalian berbagi tawa, berbagi cerita, saling memberi solusi dalam setiap masalah. Bagaimana dengan aku? Pernahkah aku melakukan itu semua denganmu? Rasanya belum. 

Aku kerap melihat kalian berdua, bahkan terkadang bersama kedua atau ketiga sahabatmu. Aku memang bukan kekasihmu, hanya sekedar teman dekat. Begitu dekat. Tetapi bolehkah aku jujur? Ya, aku cemburu. Cemburu tak perlu memiliki hak, kan? Cemburu bukan berarti kita harus memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman, kan? Walaupun kamu mengatakan bahwa kalian hanya teman curhat, dan kamu hanya sekedar suka dan bukan berarti sayang. Tetapi tetap saja, rasanya sakit. Begitu menusuk hati. Entah sudah berapa tetes air mata yang jatuh untukmu, Awan.

 Waktu berganti, aku mulai terbiasa dengan semua ini. Semakin lama aku semakin mengerti. Aku percaya semua yang kau katakan benar adanya. Kita saling memegang komitmen masing-masing. Dan ternyata, kamu kembali lagi. Tetapi karna satu hal, hubunganmu sempat kurang baik dengan Rahma, sosok wanita yang pernah kamu suka itu. Aku sempat merasa bersalah. Mengapa jadi begini? Aku memang menginginkan Awan kembali lagi padaku, tetapi bukan berarti hubungannya dengan Rahma menjadi kurang baik, kan? Aku bersyukur, hal itu tak berlangsung lama. Karna satu peristiwa, hubungan kalian menjadi baik kembali.

Kini kamu telah kembali, bersama kebahagiaan. Berkat satu hari yang begitu indah, kita seperti membuka lembaran baru, menggantikan lembaran lama yang telah usang. Kita semakin terbuka, semakin peduli satu sama lain. Begitu manis. Begitu indah. Layaknya sepasang kekasih.

Hai, kebahagiaan.

Jangan tinggalkan kami lagi, ya. Biarkan Awan dan Bintang merasakan hadirmu…selalu. Aku menyayangimu, Awan. Begitu menyayangimu. Hingga tak rela kehilangan sosokmu, sosok yang begitu berarti. Sungguh tak rela.